DPRD Minta Disnakeswan Ambil Langkah Atasi Kelangkaan Daging

Rabu, 05 Desember 2012 22:50

Kelangkaan daging sapi di Provinsi Lampung dalam sebulan terakhir ini membuat resah para pengusaha restoran dan pengusaha makanan berbahan baku daging.

Meskipun demikian, sampai saat ini Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Lampung belum mengambil langkah apa pun untuk mengatasi lonjakan harga akibat kelangkaan daging tersebut.

Terkait dengan hal itu, Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung  Ahmad Junaidi Auli meminta Disnakeswan segera mengambil langkah. Salah satunya menguji kembali data populasi sapi yang ada di Lampung.

“Jika memang persediaan sapi potong mencukupi, kenapa sampai terjadi kelangkaan daging sehingga harga melonjak dua kali lipat. Harus dicari penyebabnya. Disnakeswan harus turun untuk mencari tahu penyebabnya,” kata politisi asal PKS itu.

Menurut Junaidi, jika di tengah masyarakat populasi sapi masih banyak tentu akan menjadi keuntungan bagi Provinsi Lampung. Sesuai prinsip ekonomi, peternak tentu akan menanti saat seperti ini untuk menjual sapinya.

“Kebanyakan peternak di Lampung menjadikan sapi sebagai tabungan. Kemungkinan jika kondisi langka seperti ini tentu peternak akan berlomba menjual sapinya, itu yang harus dipelajari kenapa mereka justru tidak mau menjualnya, sehingga kelangkaan daging jadi berkepanjangan,” katanya.

Junaidi Auly menyetujui adanya rencana pemerintah pusat untuk menambah pasokan sapi tanpa menambah kuota impor. Hal itu tentunya akan disambut antuasia peternak lokal dalam pengembangan sapi di Lampung. Untuk mendukung hal itu, pada 2013 pihaknya telah berkoordinasi dengan Disnakeswan untuk mempersiapkan anggaran untuk mewujudkan swasembada daging di Lampung.

Kepala Disnakeswan Provinsi Lampung Setiato mengatakan pihaknya belum dapat mengambil langkah efektif untuk mengatasi lonjakan harga daging pada saat ini. “Kami belum berkoordinasi dengan perusahaan penggemukan sapi (feedloter), sehingga belum mengetahui secara pasti hilangnya populasi sapi di pasaran,” kata Setiato, Senin (20/11/2012).

Dengan demikian, Disnakeswan tetap akan melakukan penelusuran lebih jauh untuk mengetahui penyebab kelangkaan daging tersebut. Semestinya, kata Setiato, untuk tahun ini Provinsi Lampung memiliki populasi sapi sebanyak 742 ribu ekor, dengan rincian 100 ribu sapi siap potong.

Sementara kebutuhan tiap bulan hanya berkisar 3.000 ekor. “Nah, jika dilihat dari kebutuhannya, kita perkirakan hanya 3 ribu ekor per bulan. Jadi masih ada surplus sekitar 60 ribu ekor untuk tahun ini, namun kita akan lihat dulu di lapangan,” katanya.

Sejumlah pengusaha restoran sejak sebulan lalu mengeluhkan mahalnya harga daging sapi. Menurut Iwan, manajer Restoran D-Steak di kawasan Enggal, Bandarlampung, harga daging menembus angka Rp120 ribu per kg. “Bisanya paling mahal hanya Rp80 ribu. Sudah mahal, barangnya juga sering tak ada,” katanya.

Keluhan senada disampaikan Mas Karman, pedagang bakso di Sukarame. “Sudah setengah bulan ini saya tidak membuat bakso, karena bahan bakunya tak ada. Kalaupun ada harganya sangat tinggi, tak bisa lagi ambil untung,” katanya. (tim)

Read 269 times